Abu Nawas

11374488_272777389559263_207670410_nSaya lahir di Tasikmalaya, daerah Jamanis; kecamatan yg berada di antara Ciawi & Rajapolah. Sampai kelas 4 SD hidup di sana. Ada tradisi puitis di sana: setiap selesai adzan, sebelum iqomat, sambil menunggu jamaah ngumpul, para bocah selalu berebutan melantunkan pupujian/ sholawatan. Salahsatu pupujian yg terkenal adalah “Ilāhī lastu lil firdausi ahlā…” Pupujian yg dilantunkan dlm bhs Arab, kemudian diterjemahkan dlm bhs Sunda. Indah, puitis, mistis. Setidaknya ada 3 riwayat tentang siapa penulis syair legendaris itu.

1) Abdulloh bin Rowahah al-Anshori, seorang Sahabat & penyair kesayangan Nabi saw yg syahid dlm Perang Mu’tah. Suatu hari, dia bertamu ke rumah Abdurrohman bin Auf. Tak sengaja dia melihat betis mulus istri Abdurrohman yg busananya tersingkap dihembus angin gurun. Dia pun pingsan karena merasa sangat berdosa. Kemudian dia uzlah ke perbukitan selama 3 hari. Ketika ditemui Nabi dkk, dia melantunkan syair yg dikenal berjudul al-I’tirōf ini. 2) Syair ini ditulis oleh Syaikh Asy-Sya’roni, seorang sufi yg wafat thn 1400-an. 3) Ini riwayat yg paling masyhur, mayoritas; syair al-I’tirōf ditulis oleh Al-Hasan bin Hani al-Hakami, terkenal dg nama Abu Nawas/Abu Nuwas.

Abu Nawas (756-814) hidup di zaman Abbasiyah, sezaman dg Khalifah Harun ar-Rosyid. Sampai sekarang, dia lebih dikenal sebagai tokoh pelawak tinimbang sebagai penyair. Banyak riwayat yg menyebutkan dia adalah penyair pemabuk berat. Hampir setiap hari dia menenggak khomr. Bahkan ada jg yg meriwayatkan dia adalah seorang homoseksual, juga biseksual (cewe ok, cowo ok). Suatu malam, dia berjalan sempoyongan menuju rumahnya & menabrak seorang lelaki yg bermaksud ke masjid. Lelaki itu kemudian mendorong Abu Nawas sampai terjatuh, dan membentaknya dg syair nasihat yg konon adalah syair Sayyidina Ali bin Abi Tholib: “Hei Abu Hani! Jika kau tak bs menjadi garam yg melezatkan hidangan, maka janganlah kau menjadi lalat yg merusak hidangan” (إِذَا لَمْ تَكُنْ مِلْحًا تُصْلِحْ فَلاَ تَكُنْ ذُباَبًا تُفْسِدْ). Abu Nawas terhenyak. Hidayah Tuhan merasuk ke dadanya. Menangislah dia. Bertaubatlah dia. Lahirlah puisi al-I’tirōf. Puisi yg abadi. Puisi yg selalu didaraskan…”Dosa²ku ibarat hamparan pasir…”

Dilihat (3) Pengunjung

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *