Bashrah… O Bashrah… (2)

Omar-330BAG II:

 “Inilah Bashrah. Di sini Ali dan Aisyah, menantu dan istri Nabi, Menguburkan dendam amarah, ghirah terhadap keyakinan kebenaran. Setelah mengantarkan az-Zubair dan Thalhah, hawari-hawari Nabi, ke taman kedamaian abadi yang dijanjikan.” (Puisi Bashrah – Mustafa Bisri)
.
Bashrah pd thn 36H/656M pernah jd arena perang sipil pertama dlm kekhalifahan Ali. Sesama kaum muslimin saling menumpahkan darah di tanah Bashrah. 20.000 pasukan Ali vs 30.000 pasukan Aisyah, Zubair, Thalhah.
.
Aisyah, Zubair, Thalhah menggalang kekuatan bersenjata di Mekkah dg dalih menuntut darah Utsman; Ali harus segera menemukan & menghukum pembunuh Utsman, serta pihak² yg terlibat dlm demonstrasi pd Utsman. Ali dianggap lamban membereskan masalah ini. Ali meminta mereka bersabar. Ali ingin memulihkan dl stabilitas pascaterbunuhnya Utsman. Ya’la bin Umayyah (mantan Gubernur Yaman era Utsman) & Abdullah bin Amir (mantan Gubernur Bashrah era Utsman) menjadi penyandang dana terbesar. Ya’la menyumbang 600 ekor unta, 600.000 dirham, & seekor unta besar dg haudaj (tandu di punggung unta) bernama al-‘Askar untuk tunggangan Aisyah.

Dr sinilah muasal penyebutan Perang Jamal (Perang Unta). Dr Mekkah mereka bergerak ke Bashrah untuk berkampanye menuntut darah Utsman & menyisir anasir² yg dicurigai terlibat demonstrasi. Rencananya setelah Bashrah, Kufah jd tujuan berikutnya. Karena memang sebagian penduduk Bashrah-Kufah & sekitarnya, ikut berdemonstrasi, selain dr Mesir & Madinah. Salah satu–& paling utama–tuntutan para demonstran pd Utsman adalah memecat & menyerahkan Marwan bin Hakam, sekretaris Utsman yg dianggap sering menyelewengkan kekuasaan. Marwan sendiri pd Perang Jamal ini bergabung dg pasukan Aisyah, Thalhah, Zubair.
.
Ali berangkat dr Madinah. Abdullah bin Salam mengingatkan Ali agar jangan keluar dr Madinah, karena dikhawatirkan Ali & pusat kekuasaan Islam takkan kembali ke Madinah selamanya. Ali tetap berangkat. Di Kufah, ribuan pendukungnya telah menunggu untuk bergabung. Kedua pasukan akhirnya berhadapan. Upaya damai terus dilakukan kedua pihak. Tp perang tak terelakkan. Takbir bersahutan dr kedua pihak. Pedang & tombak telah dihunuskan, anak panah telah dilesatkan …

Ali mengundang Zubair & Thalhah ke tendanya, mengajak mereka mengenang masa² kebersamaan ketika bahu-membahu membela Nabi saw, juga mengingatkan nubuat² Nabi saw tentang mereka. Zubair & Thalhah menyatakan rujuk dg Ali & akan keluar dr arena perang. Tanpa sepengetahuan Ali, Amru bin Jurmuz, prajurit Ali, mengikuti Zubair yg pergi dr arena perang. Zubair singgah beristirahat di oase as-Siba. Amru bin Jurmuz menyergapnya & membunuhnya. Sementara Thalhah terkena anak panah tak bertuan di kaki, tembus ke kudanya.

Seorang prajurit membawanya ke sebuah rumah penduduk Bashrah, tp tak tertolong. Riwayat masyhur menyebut bhw Thalhah dipanah Marwan bin Hakam, kawan sepasukan, karena Marwan menganggap Thalhah ikut bertanggung jawab atas demonstrasi pd Utsman. Pasukan Aisyah, Zubair, Thalhah kalah di Bashrah. Aisyah diperlakukan dg baik & dipulangkan ke Madinah ditemani prajurit Ali yg bernama Muhammad bin Abu Bakr.
.
Ali menangis di depan kuburan Zubair & Thalhah. Ali teringat pd suatu ketika, Nabi saw mengajaknya jalan² ke Bukit Hira (satu riwayat menyebut Gunung Uhud) bersama Abu Bakr, Umar, Utsman, Zubair, & Thalhah. Tiba² bukit itu bergetar hebat. Nabi saw memukulkan kakinya kuat² & berkata: “Hei, tenanglah. Sungguh, yg ada di atasmu sekarang adalah Nabi, Shiddiq, & Syahid.” Nubuat itu telah terbukti: Umar, Utsman, Zubair, Thalhah telah syahid mendahuluinya.
.
Konstalasi pasca-Perang Jamal makin runyam. Stabilitas & kedamaian masih jauh dr jangkauan. Ali memindahkan pusat kekuasaan Islam dr Madinah ke Kufah. Dr Syam, Muawiyah menggerakkan pasukannya menuju Shiffin, menantang pasukan Ali, dg dalih yg sama seperti Aisyah, Zubair, Thalhah. Ali pun menerima tantangan Muawiyah. Benar saja kekhawatiran Abdullah bin Salam. Pusat kekuasaan Islam tak pernah kembali ke Madinah. Ali tak pernah sempat kembali ke Madinah. Di Kufah, Ali menggenapkan nubuat Nabi saw: syahid oleh bacokan pedang Ibnu Muljam.

Menarik melacak hubungan kekerabatan tokoh sentral yg bertikai di Perang Jamal. Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutholib. Nasabnya bertemu Nabi saw di Abdul Mutholib. Sepupu, anak asuh, sekaligus menantu Nabi saw. Ali juga adalah ayah tiri Muhammad bin Abi Bakr, adik tiri Aisyah; karena ibunya Muhammad, Asma binti Umais, sepeninggal Abu Bakr dinikahi Ali. Ketika dinikahi Abu Bakar, Asma adalah janda dr Ja’far bin Abi Thalib, kakak Ali.
.
Aisyah binti Abu Bakr bin Abi Quhafah (Utsman), dr Bani Taim. Taim adalah anak Murrah bin Ka’ab, saudara kandung Kilab bin Murrah yg menurunkan Nabi saw. Jd nasab Aisyah bertemu dg Nabi saw di Murrah bin Ka’ab. Istri Nabi saw, yg dlm Ilmu Mushthalahul Hadits jd satu²nya Sahabat perempuan yg masuk 7 Sahabat Periwayat Hadits Terbanyak; no 4 di bawah Anas bin Malik, di atas Ibnu Abbas.
.
Zubair bin Awwam bin Khuwailid, dr Bani Asad bin Abdul Uzza. Abdul Uzza adalah adik Abdul Manaf bin Qushai. Jd nasabnya bertemu dg Nabi saw di Qushai bin Kilab. Keponakan istri Nabi saw, Khadijah. Ibunya adalah bibi Nabi saw, Shafiyyah binti Abdul Mutholib. Zubair adalah menantu Abu Bakr & ipar Aisyah, karena menikah dg Asma, kakak tiri Aisyah.
.
Thalhah bin Ubaidillah bin Abu Quhafah (Utsman). Ayahnya, Ubaidillah, adalah saudara kandung Abu Bakr. Thalhah adalah keponakan & menantu Abu Bakr, juga sepupu & ipar Aisyah; karena Thalhah menikahi Ummu Kultsum binti Abu Bakr, adik tiri Aisyah. Salah satu julukannya Dzul Ishba’ (Dialah Si Pemilik Jari), sebab beberapa jarinya putus di Perang Uhud.

Bersambung ke Bashrah… O Bashrah… (3)

Sumber bacaan:
— Ibnu Ishaq, Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah saw, Syarah & Tahqiq: Ibnu Hisyam, penerbit Akar Media.
— Ibnu Katsir, al-Bidāyah wan Nihāyah: Masa Khulafaur Rasyidin, penerbit Darul Haq, Cet. I, 2004.
— Mahdi Rizqullah Ahmad, Sirah Nabawiyah, penerbit Perisai Quran, Cet. I, 2012.
— Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, penerbit Al-Maarif, Cet. I, 1974.
— Ibnu Ishaq, Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah saw, Syarah & Tahqiq: Ibnu Hisyam, penerbit Akar Media.
— M. Husain Haekal, Umar bin Khattab, penerbit Litera AntarNusa, Cet. III, 2002.
— Ibnu Katsir, al-Bidāyah wan Nihāyah: Masa Khulafaur Rasyidin, penerbit Darul Haq, Cet. I, 2004.

 

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Dilihat (9) Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *