Bashrah… O Bashrah… (3)

abbasiyahBAG III:

“Inilah Bashrah. Di sini Abu Musa dan Abul Hasan mematrikan nama al-Asy’ari pada lempeng sejarah. Inilah Bashrah. Di sini berbaur seribu satu aliran. Di sini Sunnah, Syiah, dan Mu’tazilah, masing-masing bisa menjadi bid’ah. Di sini berhala pemutlakan pendapat terkapar oleh kekuasaan fitrah.” (MB)
.
Bersama Kufah & Baghdad, Bashrah memainkan peran penting dlm sejarah peradaban Islam. Bashrah menjelma kota destinasi thalabul ‘ilmi, pusat kajian berbagai disiplin ilmu, tempat yg semarak dg perdebatan, tanah yg penuh sesak oleh para ulama lintas keilmuan & mazhab. Sejarah mencatat, dr kota inilah muncul dua ulama legendaris yg melahirkan dua mazhab teologi legendaris.
.
Setelah 15 hari 15 malam mengasingkan diri dr khalayak Bashrah, Ali bin Ismail, 40 thn, membuat pengumuman mengejutkan pd Jumat siang di Masjid Agung Bashrah. “… Mulai saat ini,” ujar Ali, “kutanggalkan keyakinan lamaku sebagaimana kutanggalkan jubahku ini …” Ali kemudian menulis banyak kitab tentang teologi barunya, & tentu saja sambil menyerang teologi lamanya. Dua kitab bisa disebut sebagai referensi utama tentang teologi barunya: Al-Luma’ fī al-Raddi ’alā Ahli al-Ziyaghi wa al-Bida’i & Al-Ibānah ’an Ushūli al-Diyānah. Ajaran teologi barunya dg cepat meraih popularitas di kalangan penduduk Bashrah, kemudian merambah Kufah, Baghdad, Jazirah Arab, & kawasan Islam lainya.

Dalam kajian Ilmu Kalam, Ali bin Ismail ini lebih dikenal dg nama Abul Hasan al-Asy’ari. Ajaran teologi barunya kemudian oleh banyak orang dinisbatkan pd nama akhirnya: Asy’ariyah. Ajaran teologi lama yg dia tanggalkan & serang adalah Mu’tazilah, yg konon dianutnya selama 40 tahun; bisa dibilang Mu’tazilah sejak dlm kandungan. Abul Hasan ini ibaratnya Malin Kundang & Bruce Wayne sekaligus: mencampakkan Mu’tazilah setelah puluhan tahun berada dlm asuhannya, menyerang Mu’tazilah dg jurus² hasil didikan Mu’tazilah yg telah dimodifikasi.

Asy’ariyah menyeruak ke arena hiruk-pikuk perdebatan teologis ketika saat itu dominasi tafsir ajaran agama sedang diperebutkan oleh dua aliran: Ahlul Hadits & Ahlur Ra’yu. (Penyebutan dua aliran tersebut tentu saja dlm konteks Ilmu Kalam, dg mengesampingkan dl Ilmu Fiqih). Ahlul Hadits menyodorkan Ahmad bin Hanbal (780 – 855 M) sebagai tokoh ikoniknya. Aliran ini dikenal sangat tekstual, yaitu menjadikan nash (dalil² naqli) sebagai satu²nya poros & alat dlm memahami akidah Islam. Tak ada sebutan khusus untuk kelompok ini, tapi mereka sering menyebut dirinya sebagai penerus ajaran kaum Salafus Shalih (Orang² Terdahulu yg Saleh, yakni para Sahabat, Tabiin, & Tabiut Tabiin, yg dipercaya sebagai generasi terbaik dlm menjalankan ajaran Nabi saw). Ahlur Ra’yu diwakili oleh kaum Mu’tazilah; aliran yang memadukan antara rasio (‘aqli) & nash (naqli) dengan tetap menjadikan rasio sebagai penentu bila lahiriah nash bertentangan dengan kebenaran rasio (dalil² logika).

Di aliran Ahlur Ra’yu masuk juga para filosof yg memahami akidah Islam & membelanya harus berdasarkan rasio dan nash dengan bertolak pada kebenaran² rasio sebagai satu²nya sumber pengetahuan. Tp para filosof ini tidak seperti para teolog Mu’tazilah yg memusatkan kajiannya melulu pd persoalan teologi. Bagi para filosof, persoalan teologi hanya salah satu kajian dr sekian banyak kajian. Makanya para filosof ini tidak dimasukkan pd kelompok Mutakallimin (para ahli Ilmu Kalam). Asy’ariyah mengambil posisi berpihak pd Ahlul Hadits, sama² menempatkan naqli dlm derajat yg lebih tinggi tinimbang ‘aqli. Tp Asy’ariyah lebih bisa mendayagunakan ‘aqli; di satu sisi menolak rasionalisme dogma, di sisi lain menerima & memakai metode rasional dlm memahami dogma. Ahlul Hadits mendapatkan darah segar dg bergabungnya Asy’ariyah, karena Asy’ariyah mampu mempertahankan legitimasi dalil² naqli dg jurus baru yakni mendayagunakan dalil² ‘aqli. Sebelumnya, para Ahlul Hadits hanya mampu menyodorkan dalil² naqli sebagai harga mati jika berhadapan dg Mu’tazilah. Meski tidak seratus persen selalu sama dlm menafsir ajaran agama, Ahlul Hadits & Asy’ariyah begitu kompak menyerang keangkuhan rasionalisme ala Mu’tazilah.

Mereka kemudian mengklaim sebagai kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dr pengambilan nama ini mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bukan saja ingin mengikuti Sunnah Rasul, Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin, serta menerima pendapat & penjelasan² yg mereka kemukakan; namun juga mereka mendambakan persatuan antarumat. Ada penekanan pd term al-Jamaah, tdk cukup dg Ahlus Sunnah saja. .


Di luar Jazirah Arab, tepatnya di Maturid, Samarkand (Uzbekistan kini), seorang keturunan Sahabat Abu Ayub al-Anshari yg bernama Muhammad Abu Manshur al-Maturidi (853 – 944 M) menyatakan bergabung dg perjuangan Abul Hasan dlm menyerang Mu’tazilah. Berbeda pendapat dlm beberapa hal dg Asy’ariyah Abul Hasan, ajaran teologi Abu Manshur kemudian dikenal dg nama Maturidiyah. Asy’ariyah & Maturidiyah ini seperti saudara kandung, sering disebut beriringan, & diklaim sebagai dua fondasi bangunan Ahlus Sunnah wal Jamaah dr sisi teologi. Di Mesir, Ahmad bin Ja’far ath-Thahawi (853 – 933 M) menyatakan mendukung Asy’ariyah & Maturidiyah. Ath-Thahawi tercatat hanya sebagai pelopor tanpa pengikut yg solid seperti dua seniornya, tp meninggalkan banyak karya berharga tentang Ahlus Sunnah wal Jamaah. Saking populernya sosok Abul Hasan & ajarannya, beredarlah ungkapan saat itu: “Selama ini, Mu’tazilah mengangkat kepalanya ke angkasa. Tapi keangkuhan mereka berakhir saat Tuhan mengirim al-Asy’ari.” Sepeninggal Abul Hasan, sang peletak fondasi, tercatat beberapa ulama yg berjasa meneruskan, menambalnya dg argumentasi² baru, & mengokohkan mazhab teologi Asy’ariyah; seperti al-Baqillani (950 – 1013 M), al-Juwaini/Imam al-Haramain (1028 – 1085 M), & al-Ghazali (1058 – 1111 M).

Abul Hasan al-Asy’ari lahir di Bashrah 874 M, wafat di Baghdad 936 M. Keturunan Abu Musa al-Asy’ari, Sahabat dr Yaman yg dipuji Nabi saw bersuara seperti Nabi Daud as, saking merdunya ketika melantunkan ayat-ayat suci. Abu Musa (yg bernama asli Abdullah bin Qais) & sebagian besar klan Asy’ari termasuk dlm rombongan yg hijrah gelombang kedua ke Habasyah. Mereka hijrah langsung dr Yaman. Bersama rombongan Quraisy pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, mereka bergabung dg Nabi saw di Madinah tak lama setelah Perang Khaibar. Abu Musa pernah menjabat Gubernur Bashrah ke-3 era Khalifah Umar, setelah Utbah bin Ghazwan & al-Mughirah bin Syu’bah. Dlm peristiwa Tahkim di Daumatul Jandal, Abu Musa jd wakil pihak Ali, berhadapan dg Amr bin Ash yg mewakili pihak Muawiyah. Selain Abu Musa, ada jg Sahabat perempuan yg terkenal dr klan Asy’ari, yakni Asma binti Umais. Secara berurutan, Asma pernah menjadi istri 3 Sahabat besar: Ja’far bin Abi Thalib, Abu Bakr Shiddiq, & Ali bin Abi Thalib. Asma juga terkenal karena pernah mendebat Umar bin Khattab di rumah Hafshah, ketika Umar berkata bahwa dirinya & yg hijrah dr Mekkah ke Madinah lebih utama & lebih berhak terhadap Nabi saw. Asma mendebat dg argumentasi bahwa dirinya lebih utama & berhak atas Nabi saw karena dirinya hijrah dua kali: ke Habasyah juga ke Madinah. Klan Asy’ari juga dicatat dlm sejarah Islam sebagai kaum yg memperkenalkan tradisi Mushafahah (bersalaman, berjabat tangan) di kalangan kaum Muslimin.

200 tahunan sebelum Abul Hasan al-Asy’ari memproklamirkan diri keluar dr Mu’tazilah, di masjid yg sama, seorang jamaah bernama Washil bin ‘Atha membuat geger pengajian yg diasuh Hasan al-Bashri (642 – 728 M). Ketika itu ada seorang seorang jamaah yg tak tercatat namanya dlm sejarah mengajukan pertanyaan pd Hasan al-Bashri tentang mukmin yg melakukan dosa besar. Pertanyaan klise tp selalu seksi yg awalnya dipopulerkan oleh kaum Khawarij puluhan tahun silam. Sebelum Hasan al-Bashri memberikan jawaban, Washil dg cepat menjawabnya. Sebuah sikap yg berani sekaligus kurang santun, karena pertanyaan itu untuk sang guru; juga sang guru tidak/belum melempar pertanyaan tersebut/meminta tanggapan pd jamaah yg lain. Menurut Washil, iman adalah suatu gambaran tentang  macam² kebaikan. Jika macam² kebaikan itu terhimpun dlm diri seseorang, maka dia disebut mukmin, & itu adalah nama yg menunjukkan pujian.

Orang yg melakukan dosa besar tidak sempurna kebaikannya, sehingga  dia tidak berhak mendapatkan nama pujian mukmin; namun dia  juga tidak kafir, karena dia telah mengikrarkan syahadatain & pada dirinya masih terdapat berbagai kebaikan lainnya. Jika dia mati tanpa bertaubat atas perbuatan dosa besarnya, maka dia kelak akan kekal dlm neraka, namun dg siksaan yg lebih ringan dr siksaan orang kafir; karena tempat kembali setelah mati kelak hanyalah dua yakni surga & neraka. Intinya, mukmin yg melakukan dosa besar sudah tercerabut dr posisinya sebagai mukmin, tp belum sampai pd posisi kafir. Dan posisi di antara dua posisi itu adalah fasik. Inilah konsep Posisi di antara Dua Posisi (Manzilah baina Manzilatain). Konsep ini kemudian menjadi sila ke-3 dr Pancasila Mu’tazilah (Al-Ushulul Khamsah), setelah at-Tauhid (Ke-Esa-an Tuhan) & al-‘Adl (Keadilan Tuhan), sebelum al-Wa’du wal Wa’id (Janji & Ancaman Tuhan) & Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Setelah menjelaskan pendapatnya, Washil lalu beranjak dr majelis sang guru, diikuti beberapa jamaah yg sepakat dg pendapatnya, & membuka majelis sendiri di bagian lain Masjid Agung Bashrah. Hasan al-Bashri pun berkomentar: “Washil telah memisahkan diri dr kita (إِعْتَزَلَ عَنَّا وَاصِلْ).”

Dr kata “i’tazala” ini kemudian kelompok pengajian Washil dikenal dg sebutan Mu’tazilah (Kaum yg Memisahkan Diri). Mereka sendiri lebih suka menyebut kelompoknya dg Ahlul ‘Adli wat Tauhid (Para Pembela Keadilan & Ke-Esa-an Tuhan). Ikut bergabung dg Washil adalah Amr bin Ubaid (699 – 761 M), salah satu peletak dasar Ilmu Balaghah kelahiran Balkh Afghanistan, yg juga kakak iparnya, karena Washil menikahi adiknya. Dua orang inilah yg dianggap sebagai tokoh angkatan pertama mazhab teologi Mu’tazilah. Tokoh angkatan kedua telah mulai bersentuhan dg filsafat Yunani, diwakili oleh Abu Hudzail al-Allaf (751-849 M), al-Jahiz (776 – 869 M), & Ibrahim an-Nazham (775 – 845 M. Satu riwayat menyebut bahwa Ibrahim ini adalah sahabat dekat penyair Abu Nuwas & pernah dihardik Abu Nuwas lewat puisi “Da’ ‘Anka Lawmi – Jangan Kau Caci Aku”, karena Abu Nuwas kesal diceramahi Ibrahim agar bertaubat dr hobinya menenggak khamr). Tokoh angkatan ketiga diwakili oleh Abu Ali Muhammad al-Jubba’i (849 – 915 M) & Abu Hasyim (w. 933 M).

Washil bin ‘Atha lahir di Madinah 700 M, wafat di Bashrah 748 M. Karena terbatasnya bacaan saya, sulit sekali melacak silsilah nasab Washil. Jika lahir di kawasan Hijaz (Mekkah, Madinah, Thaif) pd masa itu, hampir bisa dipastikan dia keturunan Sahabat, Tabiin, atau Tabiut Tabiin. Untuk sementara, sedikit silsilah nasab Washil dimungkinkan terlacak lewat nama al-Makhzumi (Dari Klan Makhzum). Di beberapa buku, pernah tertulis Washil bin ‘Atha al-Makhzumi (وَاصِلْ بِنْ عَطَاء اَلْمَخْزُوْمِى). Karena lahir di Madinah, peluang klan Makhzum yg dimaksud adalah klan Makhzum suku Quraisy sangat besar. Klan Makhzum termasuk klan besar dr suku Quraisy, selevel dg klan Hasyim atau klan Umayah. Makhzum bin Yaqazah bin Murrah. Yaqazah adalah saudara kandung Taim & saudara tiri (seayah) Kilab. Taim menurunkan Abu Bakr Shiddiq, Kilab menurunkan Nabi saw. Jd nasab Washil bertemu dg Nabi saw di Murrah bin Kaab. Dr klan Makhzum dikenal beberapa tokoh besar yg sering berseliweran dlm Sirah Nabawiyah, di antaranya Amr bin Hisyam (Abu Jahal), Khalid bin Walid, & salah satu istri Nabi saw yakni Hindun binti Suhail (Ummu Salamah). Di Madinah, Washil nyantri di beberapa ulama besar, di antaranya Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyah. Abdullah ini adalah cucu Sahabat Ali bin Abi Thalib. Ali menikahi perempuan dr klan Hanafiyah yakni Khawlah binti Ja’far, lahirlah Muhammad bin al-Hanafiyah. Washil muda kemudian merantau ke Bashrah dlm rangka thalabul ‘ilmi. Berguru ke banyak ulama, salah satunya Hasan al-Bashri. Washil ini santri yg cerdas, ahli berdebat, ahli berpidato, tp dia punya kelemahan: tak bisa melafalkan huruf ta (ت) dg sempurna. Jika melafalkan huruf ta selalu terdengar seperti huruf ghin (غ), persis seperti kelemahan Sahabat Bilal bin Rabbah ketika melafalkan huruf syin (ش), selalu saja terdengar sin (س). Dengan kecerdasan retorikanya, ketika berdebat/berpidato, Washil mampu menghindari kata² yg berhuruf ta; Washil mampu mencari padanan kata yg berhuruf ta dg kata yg tak berhuruf ta.

Puncak popularitas mazhab Mu’tazilah (& menjadi titik awal kehancuran) terjadi pd masa 3 khalifah Abbasiyah: al-Ma’mun (786 – 833 M, khalifah ke-7), al-Mu’tashim (796 – 842 M, khalifah ke-8), & al-Watsiq (812 – 847 M, khalifah ke-9). Ketika Harun ar-Rasyid meninggal, Abbasiyah dipimpin oleh al-Amin, khalifah ke-6, anak Harun dr Zubaydah. Al-Ma’mun, anak Harun dr Marajil binti Ustadhsis, adik tiri al-Amin, berkuasa sebagai Gubernur Khurasan Iran. Al-Amin kemudian mengangkat anaknya sebagai putra mahkota. Hal ini membuat al-Ma’mun marah, karena Harun ar-Rasyid berwasiat bahwa al-Ma’mun adalah pengganti al_Amin. Al-Ma’mun bergerak dr Khurasan mengibarkan pemberontakan. Perang saudara pun berkobar dr 809 – 813 M. Al-Amin kalah & dieksekusi. Naiklah al-Ma’mun menjadi khalifah ke-7. Al-Ma’mun ini adalah khalifah yg sangat gandrung akan ilmu pengetahuan. Bait al-Hikmah, perpustakaan peninggalan Harun ar-Rasyid, dia renovasi dg menambahkan fungsinya sebagai tempat penelitian ilmiah & pusat penerjemahan. Konon, penerjemahan besar-besaran berbagai literatur filsafat Yunani ke bahasa Arab, dia lakukan setelah pd suatu malam dia mimpi berjumpa & berdialog dg Aristoteles. Ia juga sering mengadakan forum diskusi al-Majalis lil Muhadharah dg menghadirkan ulama lintas keilmuan & mazhab. Dia adalah khalifah yg cerdas, pembicara yg fasih & orator yg lantang, tp angkuh. Dia pernah berkata tentang kehebatan dirinya: “Juru bicara Mu’awiyah adalah Amr bin Ash, juru bicara Abdul Malik adalah Hajjaj bin Yusuf, & juru bicaraku adalah diriku sendiri.”

Banyak berdiskusi dg tokoh Mu’tazilah generasi kedua yakni Abu Hudzail & an-Nazham, Al-Ma’mun kemudian menyatakan dirinya sebagai penganut Mu’tazilah & menjadikan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara. Dengan sumber daya kekuasaannya, dia mempropagandakan ajaran Mu’tazilah. Dia kemudian membuat kebijakan kontroversial: semua pejabat, terutama pejabat yg mengurusi masalah agama, harus lulus semacam “tes akidah”. Tes yg paling utama adalah tentang kemakhlukan al-Quran. Al-Qur’an sebagai makhluk (yg diciptakan) adalah bagian dr doktrin Mu’tazilah. Al-qur’an itu makhluk merupakan konsekuensi dr doktrin at-Tauhid. Menurut Mu’tazilah, Tuhan benar2 Esa. Secara rasional dapat dipahami kalau al-Qur’an itu qadim & bukan makhluk, maka akan muncul pengertian bahwa yg qadim ada dua bahkan lebih, sehingga menimbulkan paham ta’addudu al-Qudama’ (berbilangnya yg qadim). Menganggap adanya yg qadim selain Allah dianggap musyrik. Tak cukup dg para pejabat negara, kebijakan ini diberlakukan juga pd para ulama besar yg populer di seluruh kekuasaan Abbasiyah. Di Irak, 7 Ulama Hadits dipanggil ke istana untuk dites. Salah satu dr 7 ulama itu adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hambali, yg dihukum cambuk karena tidak mau mengakui kemakhlukan al-Qur’an. Ahmad bin Hanbal menjadi ikon keberanian & keteguhan menghadapi intimidasi kolaboratif teologis-politis. Muhammad bin Ali Laits, qadhi Mesir era al-Mu’tashim & al-Watsiq, mendukung tes akidah ini dg caranya sendiri. Setiap hari dia melaknat orang2 Mesir yg tdk mau mengakui kemakhlukan al-Quran, sampai2 dia menulis peringatan di pintu masuk masjid yg dikelolanya: “Tidak Ada Tuhan Melainkan Allah Tuhan Quran yg Makhluk.” Peristiwa tes akidah ini dikenal dlm sejarah sebagai Mihnah (inkuisisi). Sebagai mazhab resmi negara tentu saja Mu’tazilah tidak dapat dilepaskan dari kooptasi kepentingan politik negara. Mu’tazilah kemudian dipergunakan sebagai alat politik untuk mengukuhkan otoritas & legitimasi kekuasaan.

Hal ini nampak dari pelaksanaan Mihnah, yg awalnya hanya dipergunakan untuk mencari persamaan2 pandangan atau ajaran dg golongan lain, namun dlm perkembangan selanjutnya berubah menjadi usaha pemaksaan ajaran kepada pihak lain (terutama yg berseberangan dg kebijakan khalifah) & dilakukan dg tindakan kekerasan. Mazhab yg menghendaki kebebasan berpikir, pd akhirnya bergabung dg penguasa memberangus pemikiran yg berbeda dgnnya. .

Kebijakan Mihnah ini diteruskan oleh 2 khalifah berikutnya yakni al-Mu’tashim & al-Watsiq. Sampai kemudian al-Mutawakkil (822 – 861 M) bertakhta sebagai khalifah ke-10. Dia menghapuskan kebijakan Mihnah, membatalkan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara, memecat para pejabat pendukung Mu’tazilah, menggerakkan dakwah untuk memberantas ajaran Mu’tazilah, membakar kitab2 ajaran Mu’tazilah, dsb. Keadaan berbalik dg cepat. Muhammad bin Ali Laits ditangkap oleh Gubernur Mesir yg baru, dicukur habis jenggotnya, dipukuli, diarak keliling ibukota di atas keledai. Posisinya sebagai qadhi diganti oleh Harits bin Miskin, seorang ulama hadits. Karena kebijakannya, orang2 anti-Mu’tazilah memuji al-Mutawakkil sebagai khalifah yg layak disejajarkan dg Abu Bakr Shiddiq & Umar bin Abdul Aziz. Di Masa itu beredar pujian: “Hanya ada 3 khalifah. Pertama, Abu Bakr yg membasmi kaum murtad. Kedua, Umar bin Abdul Aziz yg membasmi kezaliman. Ketiga, al-Mutawakkil yg menghidupkan Sunnah (membasmi Mu’tazilah).”

Mu’tazilah kemudian banyak ditinggalkan, akhirnya menjadi mazhab minoritas. Di masa2 kurang beruntung inilah, tokoh Mu’tazilah generasi ketiga seperti Abu Ali Muhammad al-Jubba’i hidup, bersetia dg Mu’tazilah, mencoba mengenalkan kembali doktrin2 Mu’tazilah, mengader anak2 muda sebagai dai2 Mu’tazilah. Dua orang murid yg diandalkannya adalah Abu Hasyim, anak kandungnya (w. 933 M) & anak tirinya yakni Abul Hasan al-Asy’ari yg kemudian keluar dr Mu’tazilah. Konon, perdebatan tentang “nasib tiga orang yg meninggal dunia: mukmin, kafir, anak kecil” antara Abul Hasan & al-Jubba’i pd suatu ketika, dianggap sebagai salah satu penyebab keluarnya Abul Hasan dr Mu’tazilah; selain alasan mistis yakni Abul Hasan mimpi didatangi Nabi saw & menyuruhnya untuk meninggalkan pemujaan pd rasio. Setelah al-Jubba’i cs, dakwah Mu’tazilah diteruskan oleh Abdul Jabbar bin Ahmad (935 – 1025 M) & az-Zamakhsyari (1075 – 1144), pengarang tafsir al-Kasyaf. .

Sumber bacaan:

— Ibnu Ishaq, Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah saw, Syarah & Tahqiq: Ibnu Hisyam, penerbit Akar Media.
— Asy-Syahrastani, Al-Milal wa Al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Manusia, Penerbit Bina Ilmu, 2009.
— Philip K. Hitti, History of the Arabs, Penerbit Serambi, 2013.
— Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan, Penerbit UI Press,1986.
— HA. Mustopa, Filsafat Islam, Penerbit Pustaka Setia, 1997

 

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Dilihat (10) Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *