Hujan dan Puisi

Ketika dulu mereka masih remaja, Amaya bercerita tentang cantiknya gerimis dalam genggaman tangan para penyair. Tentang derai hujan yang lirih mempertautkan hati dan kerinduan sepasang kekasih yang berjauhan. Tentang deras hujan yang berbisik mesra pada dedaun. Tentang air hujan yang manja terbaring di dasar tanah dan yang lainnya berlari lincah menyusuri sungai, menuju lautan. “Rahim […]

Perahu Yang Akan Segera Berangkat

Di sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia. Perahu besar yang berlabuh setiap setahun sekali, menepi selama sebulan, […]

Sentimentil, 19 Oktober

Cerpen gagal Badru Tamam Mifka (monolog lelaki patah hati) Aku bertemu kamu beberapa tahun yang lalu. Ketika daun-daun terlepas, yang tak lama tumbuh lekas. Lantas siapa yang mampu menolak jatuh cinta? Betapa kenangan yang sulit aku hapuskan. Kelak senja menyahut, dan musim-musim saling bertaut. Tapi kenapa akhirnya usia cinta kita akhirnya binasa. Hari ini, mantan […]

Catatan Dendam

Di sana, di pojok sebuah taman, si Pak Tua menulis di buku hariannya, tentang kesedihan cinta, juga tentang dendam: Aku menerima cukup kesedihan sepanjang hidupku. Di masa kecilku, kesedihan yang paling menyakitkan terjadi setiapkali aku berada di kolam renang. Di usia remajaku, kesedihan yang sangat memalukan muncul setiapkali aku pulang sekolah. Di masa aku tumbuh […]

Balada Lelaki Bermata Pisau

Senja, cahayanya merapat pada batu-batu. Ada jejak yang masih hangat sepanjang jalan setapak. Ada dengus napas yang belum hilang sepanjang ilalang. Di samping pohon-pohon, lelaki itu berdiri di atas batu tertinggi. Rantai masa lalu di kaki kirinya berderak mengeluarkan suara yang pahit. Ia bicara pada angin, pada dedaun kering yang jatuh. Hanya inilah kebahagiaan sementara, […]