Dan Keheningan Pun Kian Lengkap

(Ada yang lain, selalu, ketika luka usia melewati jalan yang tak menyimpan arah. Ia adalah keheningan…)

Kutahu, hari telah cukup tinggi mengurai jarak yang dingin di antara ingatan dan catatan yang berguguran. Tak tersisa, mungkin serupa aku yang berjalan kecil dan berkata: “Aku hanyalah seorang lelaki yang selalu saja tak mampu menafsir cinta, kesetiaan, dan ketabahanmu…”

Dan keheningan pun kian lengkap, Ibu.

Aku tiba-tiba ingin terus menciumi keningmu, menciumi tanganmu, menyembunyikan puisi lukaku di kelembutan pelukmu, membaca peta perjalananku di ketegaran langkah kakimu. Aku tiba-tiba ingin terus melakukan itu. Sebelum kelak aku menjadi sisa-sisa kata, lantas angin meniupnya perlahan, atau mungkin menjadi sisa-sisa kenangan yang berulangkali ingin dilupakan.

Ketika hari kian meninggi, izinkan aku untuk tetap memunguti hangatnya doa-doa yang selalu mengalir dari kejernihan matamu.

 

Dilihat (5) Pengunjung

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *