Hujan Selepas Maghrib

hujanSetiap puisi yang mengabadikan sebuah perjalanan, sesungguhnya dengan setia menyandarkan diri pada doa-doa yang memucat mencatat alamat.


Riwayat pencarian purba yang bergema di dada, menitipkan kecemasan tanpa jeda pada setiap gerak langkah yang gemetar di bentangan entah.

(Namun, haruskah aku terus memaki deras hujan selepas Maghrib, yang dengan dingin merebahkan kerinduan paling bedebah di mataku yang berkeringat hangat?)

Inilah aku. Ya, inilah aku, seorang lelaki yang tengah mengurai rahasia tanda-tanda di semesta hidupnya, menerka-nerka gelagat waktu yang kian mendekati tapal batas, melautkan penempuhan penuh tanya akan sebuah nama; sebuah nama yang kelak dirawat doa-doa sunyi, diutuhkan hati, dikekalkan puisi.

Apakah namamu yang senantiasa mengendap di dada, memukau rindu yang parau untuk berkiblat pada senyap?
Apakah namamu yang senantiasa berdesir di setiap getir perjalanan, jawaban untuk seorang lelaki yang berdoa: “Kenalkanlah aku pada diriku sendiri”?*

7 Desember 2015 


*Sebuah doa dari Imam Yusuf bin Asbath, ulama generasi Tābi’ut Tābi’īn, murid dari Imam Sufyan ats-Tsauri. Redaksi lengkapnya: “Allōhumma ‘arrifnī nafsī. Tuhan, kenalkanlah aku pada diriku sendiri.”

Dilihat (6) Pengunjung

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *