Imam Syafi’i

11820471_1477424142553539_1223885190_nPada suatu hari, di Mesir, Imam Syafi’i (150-204 H.) berdebat dengan Yunus Ash Shadafiy (dikenal dg nama kunyahnya Abu Musa), sesama ulama fiqih. Setelah selesai acara perdebatannya, Imam Syafi’i mendatangi Abu Musa. Sambil bersalaman dan berpelukan, Imam Syafi’i berkata: “Ya Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara, meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?” Abu Musa mengangguk dan tersenyum.

Lalu, dua ulama yg berakhlak mulia tersebut berjalan beriringan meninggalkan tempat perdebatan. Entah menuju rumahnya masing², atau bisa saja menuju warung makan; pasti lapar dong udah berdiskusi dan berdebat mah. Kisah itu diriwayatkan oleh Imam adz-Dzahabi dlm karyanya Siyar A’lāmin Nubalā; kitab yg berisi biografi para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan Ulama Islam. Pembesar Quraisy, Abdul Manaf bin Qushai menurunkan 4 keluarga besar: Bani Abdu Syams, Bani Hasyim, Bani Mutholib, dan Bani Naufal. Nah, Imam Syafi’i nasabnya dari Bani Mutholib, sedangkan Nabi Muhammad saw nasabnya dari Bani Hasyim.

Ketika Bani Hasyim dan para pengikut Nabi diboikot secara ekonomi dan sosial oleh mayoritas penduduk Mekkah, Bani Mutholib tampil sebagai kabilah pembela. Oleh sebab itu, Rosululloh saw menyebut Bani Mutholib sebagai dzawil qurba (kerabat dekat) dari Bani Hasyim. Imam asy-Syafi’i yg bernama Muhammad bin Idris adalah ulama pendiri madzhab Syafi’iyyah. Fatwa² fiqihnya terkumpul dlm kitab Al-Umm. Dia juga adalah pelopor sistematika ilmu Ushul Fiqih, lewat karyanya ar-Risālah. Lahir di Gaza Palestina tahun 150 H/768 M, tahun yang sama ketika Imam Hanafi wafat. Wafat di Mesir tahun 204 H/819 M.

Dilihat (10) Pengunjung

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *