Puisi Itu adalah Kau

Cinta yang menggema bisa dilarikan pada apa saja,
tidak mesti pada puisi.
Luka yang renta bisa dititipkan pada siapa saja,
puisi tak harus menjadi saksi.
Tapi siapa yang bisa melarikan diri dari puisi yang dicintainya?
Siapa yang sanggup berhadap-hadapan dengan nyeri
yang kerap menyergap tanpa puisi di sisinya?
Siapa yang akan bertahan meluruskan sepi
jika puisi tak bersamanya?

Jadilah! Maka menjadilah puisi…
Puisi yang bergerak penuh gairah di aliran darahku,
puisi yang bergetar menghangati kedua mataku-
merobohkan musim panas yang angkuh di kepalaku,
meluluhlantakkan musim dingin yang bengis di hatiku.

Puisi itu adalah kau. Puisi itu adalah kau yang dengan
gigih menagih kata-kata untuk menjerat isyarat.
Puisi itu adalah kau yang membawa kabar bahwa
masih ada sisa waktu untuk menegakkan rindu-
menegakkan rindu akan kampung halamanku,
menegakkan rindu akan asal-usul diriku.

1 Juni 2015

Dilihat (7) Pengunjung

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *