Still Alice

Padamu aku belajar seni kehilangan.
Mencatat huruf-huruf untuk mengingat
hari-hari yang ingin tetap dipertemukan,
mengingat kata-kata untuk membaca
doa-doa yang ingin tetap diyakinkan,
membaca jejak-jejak untuk menafsir
kenangan-kenangan yang ingin tetap diperjuangkan.

Pada tangan yang gemetar ketika mengikat tali sepatu,
pada mata yang berkaca ketika menatap luas laut,
pada bibir yang menggigil ketika kehilangan setiap kenangan,
pada langkah yang menolak lelah ketika menerka arah;
aku temukan suara Ney* yang menyayat-nyayat harap,
yang mengetuk-ngetuk rindu di setiap dada
para pengikat janji sejak Hari Alastu**.

Alice,
dengan apa kaulipat jarak yang serak?
Dengan apa kausingkat gerak yang sesak?
Dengan apa kautafsir takdir yang getir?
Dengan apa kaupetakan sebuah perjalanan?
“Cinta… Cinta,” bisikmu.

*Ney adalah sebutan dlm bhs Persia untuk seruling khas Timur Tengah yg suaranya merdu menyayat. Konon, Sufi Turki Jalaluddin Rumi dan murid²nya menggunakan Ney untuk mengiringi “tarian spuritualnya”. Suara Ney adalah kepedihan rindu para pecinta pd objek cintanya, yaitu “Asal-Usul dirinya.” Bagi Rumi, Ney menyuarakan kerinduan pd Kekasih Sejati. Ney menjadi simbol spiritual karena mampu menampung filosofi perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan & mewakili kerinduan manusia kpd Tuhan. Dlm Tasawuf, esensi manusia berasal dari “Ruh Tuhan”. Ketika Tuhan memutuskan untuk menciptakan Adam, Dia meniupkan “Ruh-Nya” sendiri ke dlm diri Adam. Alhasil, kerinduan yg dirasakan oleh manusia pd Tuhan adalah kerinduan untuk kembali menyatu pd “Asal-Usul Dirinya”, yaitu Tuhan. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Ney & Tasawuf Rumi, silakan rujuk, misalnya “Finding Rumi” karya Najmar, diterbitkan oleh Edelweiss (lini produk Pustaka IIMaN), 2010. =))

**”Hari Alastu” adalah diksi dlm sebuah puisi karya penyair Persia Hafez al-Shirazi/Hafizh al-Syirozi (1325-1389). Bisa diartikan sebagai hari perjanjian manusia dg Tuhan, ketika manusia masih di alam arwah, blm terlahir ke Bumi. Perjanjian primordial, perjanjian eksistensial. Diambil dr sebuah kata tanya dlm al-Quran surat al-a’rāf ayat 172: “Alastu birobbikum?”—”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Dan manusia menjawab: “Balā syahidnā.”—”Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” wallohu a’lam…..

 

Dilihat (5) Pengunjung

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *