The Appointment in Samarra

Adair 10/03/04 Samarra

“Pernah ada seorang saudagar, di pasar yg terkenal di kota Baghdad. Suatu hari dia melihat seorang pendatang yg menatapnya dg keheranan. Si saudagar tahu bahwa pendatang itu adalah Sang Maut. Dg pucat & gemetar, si saudagar lari dari tempat dagangannya. Melarikan diri sejauh mungkin, ke kota Samarra. Selama di Samarra, si saudagar yakin Sang Maut tak akan bisa menemukan dirinya. Tp kemudian, akhirnya, Sang Maut datang ke Samarra. Si saudagar melihatnya, menunggunya, sosok bengis dari Sang Maut. “Baiklah,” kata si saudagar, “aku menyerahkan diri, aku milikmu. Tapi katakan, kenapa kau tampak heran saat melihatku pagi tadi di Baghdad?” “Karena,” jawab Sang Maut, “aku punya sebuah janji-temu dgmu malam ini … di Samarra.” (Sherlock S04E01 – The Six Thatchers).
.
Sang Maut sempat mampir di Tbilisi, ibukota Georgia, & sempat bertemu dg AGRA (Alex, Gabriel, Rosamund Mary, Ajay), para prajurit bayaran. Di Tbilisi, Sang Maut hanya melakukan janji-temu dg Alex & Gabriel. 6 thn kemudian Sang Maut melakukan janji-temu dg Ajay di Maroko. Di London, Mary menyelamatkan nyawa Sherlock Holmes dr peluru Ammo dg mengorbankan nyawanya. Akhirnya tunai sudah janji-temu Sang Maut dg AGRA.
.
“Janji-Temu di Samarra”/”The Appointment in Samarra”/”Mau’idun fi Samarra” adalah cerita rakyat klasik dr Irak. Cerita aslinya sedikit berbeda dg yg diceritakan dlm serial Sherlock. Dlm cerita aslinya, Sang Maut melakukan janji-temu dg pelayan si saudagar. Kisah yg mirip juga beredar dlm tradisi tasawuf dg judul “Ketika Sang Maut Berkunjung ke Baghdad”, & dipercaya ditulis oleh seorang ulama sufi, Al-Fudhail bin ‘Iyadh (726-803). Dlm versi Al-Fudhail, Sang Maut melakukan janji-temu dg seorang pengikut ulama sufi di Samarkand, bukan di Samarra. Cerita asli “The Appointment in Samarra” dikenalkan ke Barat thn 1933 oleh sastrawan Inggris W. Somerset Maugham (1874-1965). Cerita ini begitu populer di Barat, sehingga menginspirasi sastrawam Amerika John O’Hara (1905-1970) untuk menulis novel dg judul yg sama di thn 1934.
.
#sherlock #historyofthearabs
.
Samara (سَامَرَّا) pernah menjadi ibukota Dinasti Abbasiyah selama 56 thn (836-892). 8 khalifah Abbasiyah memusatkan kekuasaannya di sini. Khalifah ke-5 Harun ar-Rosyid pernah diberi hadiah beberapa selir ras Turki oleh istrinya, Zubaydah. Selir yg bernama Marajil binti Ustadhsis melahirkan al-Ma’mun. & selir yg bernama Maridah binti Shabib melahirkan al-Mu’tashim. Ketika Harun meninggal, Abbasiyah dipimpin oleh al-Amin, khalifah ke-6, anaknya dr Zubaydah. Al-Ma’mun, adik tirinya, kemudian memberontak. Perang saudara pun berkobar dr 809-813. Al-Amin kalah & dieksekusi. Naiklah al-Ma’mun menjadi khalifah ke-7. sepeninggal al-Ma’Mun, Abbasiyah kemudian dipimpin oleh al-Mu’tashim, khalifah ke-8.
Pd masa awal Dinasti Abbasiyah, pasukan pengawal istana & khalifah kebanyakan berasal dr Khurasan, sisanya dr Mudhar Arab Utara & Yaman Arab Selatan. Al-Mu’tashim kemudian menambah divisi baru dg merekrut orang2 Turki, para budak dr Farghanah & sekitarnya, yg banyak bertebaran di daerah Transoxiana (Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Turkmenistan). Para pengawal Turki ini berjumlah 4.000 orang, tujuan awalnya untuk mengimbangi kekuatan pengawal dr Khurasan yg banyak ikut campur dlm urusan pemerintahan, Di Baghdad, orang2 Turki ini tdk disukai oleh penduduk pribumi, karena kelakuannya yg angkuh, kejam, & seringkali meneror. Bentrokan penduduk Baghdad vs orang2 Turki pun sering terjadi.

Baghdad jadi jd tak aman. Al-Mu’tashim kemudian memindahkan ibukota Abbasiyah ke sebuah kota yg berjarak 125 km dr Baghdad. Kota itu diberi nama “Sarro Man Ro-aa” (Senanglah Orang yang Melihatnya), disingkat Samarra, yg kemudian dikenal sebagai pusat pembuatan mata uang Abbasiyah. Bagi kaum Syiah Istna ‘Asyariyah (Syiah 12 Imam), Samarra adalah kota suci. Di sini terdapat makam Ali al-Hadi bin Muhammad, Imam ke-10, makam Hasan al-Asykari bin Ali, Imam ke-11, & tempat kelahiran Muhammad al-Mahdi bin Hasan, Imam ke-12/Imam Mahdi.

“Sang Maut menunggu kita semua di Samarra. Tp bisakah Samarra dihindari?” tanya Sherlock Holmes. Di Samarra, pd masa itu, Sang Maut sibuk melakukan temu-janji. Pasukan pengawal Turki mulai diperhitungkan & menjelma jd kelompok militer yg berani mencampuri urusan pemerintahan, Beberapa khalifah menjalankan kekuasaan di bawah tekanan mereka. 3 khalifah dibunuh oleh mereka: al-Mutawakkil, al-Musta’in, & al-Mu’tazz. Di Samarra juga pernah terjadi pemberontakan dr orang2 Zanj (dr bhs Persia: Zangi-bar, artinya Pesisir Orang Hitam), yg didatangkan dr Afrika Timur untuk dipekerjakan di pertambangan di dataran rendah Efrat. Ali bin Muhammad, memimpin pemberontakan selama 14 thn (870-883), di masa khalifah ke-15 al-Mu’tamid.

Khawarij jd mazhab resmi para pemberontak. Untuk meneror orang2 agar tak membantu pasukan Abbasiyah, para pemberontak mempunyai ritual yg mengerikan. Setiap usai satu peperangan, mereka mengumpulkan kepala dr mayat pasukan Abbasiyah, lalu menghanyutkannya ke sungai yg mengalir ke daerah Basrah. Di pinggiran sungai Basrah, para sanak keluarga & kerabat pasukan Abbasiyah berjubel untuk mengenali setiap kepala yg terbawa arus sungai. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh saudara al-Mu’tamid pd 833.
Istilah Zanj/Zangi-bar kemudian dikenal dg Zanzibar, nama sebuah pulau di negara Tanzania, Afrika Timur. Penduduknya mayoritas muslim mazhab Ibadhiyah. Ibadhiyah adalah satu2nya sekte pecahan Khawarij yg masih eksis hingga kini. Sekte Khawarij paling moderat. Menurut Ibadhiyah, “tak ada kelompok yg berhak mengklaim paling benar, karena hanya Allah yang berhak menjadi hakim.” Dinisbatkan pd Abdulah bin Ibadh at-Tamimi, teolog muslim yg hidup pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, khalifah ke-5 Dinasti Umayyah I. Kini 75% penganut Ibadhiyah ada di negara Oman, satu2 negara yang menjadikan Ibadhiyah sebagai mazhab resmi.

Lahir di Tasikmalaya, 18 Februari 1981. Anak ke-3 dari empat bersaudara. Kini tinggal di Ciromed, Sumedang.

Dilihat (37) Pengunjung

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *